Sulit Hilangkan Kebiasaan Makan Makanan Fast Food

Tandapagar.com – Mengonsumsi makanan cepat saji (fast food) sudah menjadi tradisi masyarakat urban di era modern seperti sekarang ini. Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa terlalu banyak mengonsumsi makanan seperti ini tidak baik untuk kesehatan.

Namun sayangnya, hal seperti itu tampaknya tidak digubris sama sekali, dan tetap saja masih banyak masyarakat yang rutin mengonsumsinya.

Makanan cepat saji sangatlah identik dengan nutrisi yang rendah namun berkalori tinggi. Hal ini berarti, jika kita sering mengkonsumsi makanan cepat saji maka kita akan mendapatkan rasa kenyang, namun tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup.

Tubuh kita pun hanya akan mengkonsumsi karbohidrat dan lemak yang berlebihan sehingga kita pun mengalami masalah kurang gizi.

Disamping itu, masalah obesitas pun mengancam kesehatan tubuh kita. Lemak tidak sehat dari makanan gorengan dan juga jumlah karbohidrat yang besar tentu akan membuat tubuh kita menjadi semakin menggemuk dan tidak sehat.

Dan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh University of Michigan menyebutkan bahwa kadang sulit melepaskan kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji dari pola makan kita.

Sebab, gejala yang muncul saat itu adalah mirip dengan gejala orang yang melepaskan diri dari kecanduan obat.

Penelitian yang dipublikasikan dalam edisi terbaru Appetite diyakini sebagai penelitian pertama dari jenis penelitian yang mengamati gejala melepaskan diri dari makanan yang memuaskan diri dari pola makan harian mereka .

Jika mereka mencoba untuk berhenti untuk beberapa kali, mereka harus melaporkan apa yang dialaminya, kemudian gejala melepaskan diri itu mirip dengan seseorang yang mencoba mengurangi nikotin atau ganja, demikian laporan wwlp, seperti yang dikutip Selasa.

Responden mengatakan bahwa mereka mengalami dua hingga tiga gejala ini setelah meninggalkan sajian cepat saji, yakni kesedihan, kelelahan, mendambakan, mudah lekas marah, dan setelah beberapa hari kemudian, gejala-gejala tersebut mereda, sambung para responden.

Para peneliti mengatakan bahwa hal tersebut ada hubungannya dengan bagaimana cara kerja melepaskan diri dari kecanduan obat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.