Menjadi Pemimpin Level 5

unnes.ac.id

Oleh: Cahyadi Takariawan

Jim Collins terkenal dengan dua buku yang fenomenal. Pertama berjudul “Built to Last”. Buku kedua berjudul “Good to Great”.

Buku pertama berfokus pada pertanyaan: apa rahasia yang dimiliki sebelas perusahaan global dari berbagai industri, untuk bertahan selama puluhan dan ratusan tahun, bahkan menjadi nomor satu di dunia.

Buku kedua didasarkan oleh pertanyaan: apa rahasia transformasi perusahaan dari nilai “baik” (good) menjadi perusahaan yang “sangat hebat” (great) ?

Ada banyak hal menarik dari hasil penelitian Collins beserta dua puluh orang asistennya selama lima tahun dengan metodologi ilmiah yang sangat solid, yang menjadi bahan dasar buku “Good to Great”.

Collins berkali-kali berpesan kepada tim risetnya untuk tidak memedulikan faktor pemimpin dalam mencari kunci sukses perusahaan.

Ia menganggap kepemimpinan cenderung didramatisir, yaitu kalau perusahaan sukses, itu pasti karena pemimpinnya, demikian juga kalau gagal.

Namun, setiap kali menganalisa tumpukan data-data riset yang menggunung, mau tidak mau mereka menemukan bahwa kepemimpinan adalah faktor yang sangat vital dalam menentukan suksesnya perusahaan.

Semua perusahaan yang mereka teliti, yang telah mengalami terobosan transformatif dalam kinerja dan mampu mempertahankannya secara terus-menerus selama puluhan, bahkan ratusan tahun, ternyata memiliki pemimpin dengan dua karakteristik utama: “personal humility” (kerendah-hatian) dan “professional will” (ambisi profesional).

Kombinasi kedua karakteristik ini menjadi paradoks. Pemimpin yang disebut Collins sebagai “Level 5 Leaders” ini adalah para pemimpin yang rendah hati, tidak menyombongkan diri, bahkan cenderung “pemalu”.

Mereka menunaikan tugas dengan diam-diam tanpa berupaya mencari perhatian dan pujian publik. Apabila mendapat keberhasilan, mereka selalu berusaha untuk memberikan kredit kesuksesan itu kepada orang lain atau hal lain di luar diri mereka sendiri.

Sebaliknya, apabila ada kegagalan, mereka bertanggung jawab secara pribadi dan tidak mencari kambing hitam.

Ambisi mereka adalah untuk kehebatan dan kelanggengan perusahaan atau organisasi, bukan untuk popularitas, kehebatan dan kepentingan diri sendiri.

Dalam konteks PKS : penuh energi dan ambisi untuk memenangkan partai dakwah, namun selalu rendah hati. Selalu ingin membesarkan partai dakwah, dan tidak ingin lebih besar dari partai dakwah

Sudahkah kita menjadi pemimpin level 5?

Semoga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.