Kisah Dayang Suriani, Guru Asal Indonesia yang Terpilih Jadi yang Terbaik di Dunia

Dayang Suriani via Prokal.

MENURUTMU, guru terbaik itu seperti apa sih sosoknya? Penyabar, berpikiran terbuka, santai, atau jarang memberi tugas? Nah, kamu perlu kenalan nih dengan seorang wanita yang dinobatkan sebagai guru terbaik di dunia. Bayangkan betapa bangganya karena rekor dunia berhasil ia taklukkan.

Adalah ajang internasional Global Teacher Prize (GTP) pada bulan Agustus 2017 lalu memberikan apresiasi kepada guru terbaik di seluruh belahan dunia. Setiap tahun GTP memberikan penghargaan US$ 1 juta atau sekitar Rp 13,5 miliar kepada guru yang memberikan kontribusi luar biasa terhadap profesinya.

Dilansir dari laman globalteacherprize.org, acara yang dibuat UNESCO ini bertujuan mengingatkan betapa pentingnya pendidikan dan dampak guru, bukan hanya pada siswa mereka, tapi juga lingkungan sekitar.

Salah satu dari 50 Guru Terbaik Dunia 2017 ternyata berasal dari Indonesia. Guru dari Balikpapan, Kalimantan Timur ini mampu bersaing dengan puluhan ribu guru di dunia, mewakili Indonesia di puncak acara GTP Maret lalu di Dubai, Uni Emirat Arab. Dia adalah Dayang Suriani yang terpilih sebagai guru terbaik dunia yang sebelumnya bersaing dengan 20 ribu guru dari 179 negara pada ajang Internasional Global Teacher Prize atau GTP di Dubai.

Dayang mengaku tak menyangka prestasi yang diemban dari acara yang dikemas oleh Unesco, United Kingdom dan United States of America serta kerja sama dengan Perserikatan Bangsa Bangsa ini bisa mengantarkannya sebagai Guru Terbaik Dunia. Terlebih acara tersebut merupakan ajang penghargaan bagi guru berprestasi di dunia atau internasional yang tahun ini digelar di Dubai.

Detik-detik raih Penghargaan

Guru kelahiran Balikpapan pada 9 Agustus 1974 ini pun mau berbagi cerita awal mula mendapatkan penghargaan itu. Proses panjang dan dedikasi yang selama ini ia jaga dalam mengemban amanah sebagai abdi masyarakat merupakan kunci keberhasilannya dalam meraih prestasi Guru Terbaik Dunia.

“Awal mulanya kita memang harus bekerja dengan ikhlas sebagai pengajar, berusaha menjadi orang yang menjadi inspirasi, ibu yang baik dan istri yang baik dan bagaimana dedikasi kita terhadap masyarakat itu bisa benar-benar terabadikan dalam karya. (Hal) Itu merupakan cikal-bakal mengapa dewan juri di Global Teacher Prize memilih saya menjadi 50 top guru terbaik di dunia,” kata Dayang dalam dikutip dari laman Kemdikbud.

Dayang mengatakan itu saat menghadiri acara Kemdikbud soal Pemilihan Tenaga Kependidikan Berprestasi Tahun 2017, di Jakarta, pada Rabu (16/8/2017).

Dayang menjadi salah satu sumber acara yang digagas oleh Kemdikbud dan sekaligus dianugerahi penghargaan oleh Kemdikbud. Acara yang dikemas dengan tema ‘Tenaga Kependidikan Mulia karena Karya’ diikuti tingkat kabupaten-kota seluruh provinsi di Indonesia serta dihadiri 330 peserta, baik itu kepala sekolah, guru dan tenaga laboratorium dari seluruh kabupaten-kota maupun guru dan tenaga ahli lainnya.

Dayang menambahkan, saat terpilih dalam 50 top dunia ia harus menyingkirkan 20 ribu guru di dunia yang bersaing melalui online yang disampaikan kepada penyelenggara acara tersebut. Berbekal landasan yang kuat dan berusaha menjadi guru yang paripurna serta mendidik dengan hati, pada akhirnya ia mewakili Indonesia pada ajang International Global Teacher Prize atau GTP di Dubai itu.

“Seperti yang saya bilang tadi, harus mampu menginspirasi murid sehingga melahirkan siswa-siswa yang berhasil, baik di tingkat lokal maupun provinsi dan nasional. Itu pulalah yang menjadi rekam jejak kita yang dilaporkan ke Global Teacher Prize. Latar belakang kita mendedikasikan seorang yang bisa menyentuh diberbagai aspek di dunia pendidikan. Nah sampai akhirnya bekal itu saya mengikuti Global Teacher Prize,” kata guru SMAN 1 Balikpapan itu.

Keberhasilan yang ia peroleh itu, katanya berkat dukungan keluarga yang kuat. Bahkan, sebagai guru yang berprestasi ketika dalam keluarga juga tidak lupa dengan suami dan anak. Begitu juga seorang suami tidak lupa dengan istri. Artinya mampu memberikan pelayanan yang baik kepada keluarga apa pun yang diminta. Selain itu, sebagai abdi masyarakat maka seorang guru berprestasi harus mampu terjun di masyarakat dengan cara berbagi ilmu.

“Karena, pertanyaan para juri tidak lepas dari bagaimana peran seorang ibu terhadap keluarga selain memiliki kompetensi. Artinya, guru dituntut tidak lupa bagaimana sebagai ibu rumah tangga, begitu juga seorang guru laki-laki bagaimana peran dia sebagai kepala keluarga dalam rumah tangganya,” tutur Dayang.

Nah setelah dalam banyaknya aplikasi itu, katanya, peserta diminta dewan juri untuk menjawab 10 pertanyaan yang luar biasa terkait posisi strategis yakni, guru, ibu dan abdi masyarakat. “Ketika juri bertanya siapa dirimu, lalu kita mau jawab apa? Itu pertanyaan simple, tapi benar-benar punya makna yang tersirat di dalamnya. Yang kemudian kita kenalkan diri kita seperti itu, karena kita sudah menjawabnya dengan benar dan ikhlas, maka dengan mudah menjawabnya.

“Tapi kalau kita menjawab dengan berdasarkan teori, maka sudah dipastikan tidak akan lolos di Global Teacher, karena mereka membutuhkan live journey. Kalau kita bicara matematika, maka inilah matematika kehidupan sesungguhnya. Tidak pernah terukur dengan angka tapi dia terukur karena dedikasi yang nyata,” ucap Dayang.

Kunci sukses Dayang

Meraih penghargaan tersebut, menurut Dayang Suriani memang tidak mudah. Untuk menjadi seorang guru yang global atau guru yang mampu menyentuh berbagai aspek kehidupan. Maka guru tersebut harus bisa mengikuti berbagai tahapan yang dilaksanakan pada event tersebut.

“Misal, sebagai guru kita harus bisa bekerja dengan sebaik-baiknya. Memiliki kreativitas dan inovasi. Bahkan, sebagai ibu maupun bapak dari anak-anak dalam keluarga juga harus bisa membagi waktu kepada keluarga dan mampu membesarkan anak-anak dengan akhlak dan prilaku yang baik. Jika perlu ketika kegiatan di dalam keluarga bersama anak atau satu keluarga dapat didokumentasi, sehingga dari dokumentasi ini dapat menjadi informasi bagi para mentor maupun juri yang menilai penghargaan tersebut,” beber Dayang.

Bahkan, sebagai guru yang berprestasi ketika dalam keluarga juga tidak lupa dengan suami. Begitu juga seorang suami tidak lupa dengan istri. Artinya, mampu memberikan pelayanan yang baik kepada keluarga apa pun yang diminta.

Selain itu, sebagai abdi masyarakat, maka seorang guru berprestasi harus mampu terjun di masyarakat dengan cara berbagi ilmu. Walaupun bukan dengan materi.

Mengingat perjuangan hingga berhasil menjadi 50 top guru di Dunia. Dayang Suriani mengaku menangis dan terharu ketika dinobatkan membawa Nama Negara menjadi guru terbaik diantara 39 negara di Dunia.

“Saya menangis ketika itu. Karena semua bendera Negara dikibarkan ketika pengumuman tersebut dan Bendera Negara kita ada di antara Negara-negara lain. Ya, ini merupakan kebahagiaan yang sangat luar biasa dan semoga dapat menjadi motivasi bagi guru-guru yang lain di Indonesia khususnya di Kaltim,” jelas Dayang Suriani yang kesehariannya mengajar sebagai Guru Bahasa Inggris di SMA Negeri 1 Balikpapan.

Sebelum melangkah menuju sebagai 50 Top Dunia. Memang ada 20.000 guru di dunia bersaing melalui via online yang disampaikan kepada penyelenggara event tersebut. Sedangkan ketika di Dubai adalah tinggal bagaimana meningkatkan kompetensi, kepribadian dan sosial dihadapan para juri. Sementara ketika melalui via online di Tanah Air masing-masing, peserta lebih mengedepankan kompetensi, professional dan kemampuan pedagogic.

“Jadi, kiprah kita dimasyarakat itu lebih penting. Bagaimana menjadi guru yang baik dan ibu rumah tangga yang baik itu sangat penting. Karena, pertanyaan para juri tidak lepas dari bagaimana peran seorang ibu terhadap keluarga selain memiliki kompetensi. Artinya, guru dituntut tidak lupa bagaimana sebagai ibu rumah tangga, begitu juga seorang guru laki-laki bagaimana peran dia sebagai kepala keluarga dalam rumah tangganya,” jelas Dayang Suriani.

Ketika mengikuti tahapan via online memang tidak mudah. Selain jaringan internet harus kuat. Kondisi tubuh juga harus prima. Karena, mengerjakan jawaban yang diberikan para juri melalui online diterima setiap malam hari.“Karena itu, dukungan keluarga sangat penting. Artinya, dalam meraih kesuksesan peran keluarga sangatlah paling utama,” ceritanya.

Dayang Suriani berpesan, jika ingin menjadi guru terbaik bukan hanya di dunia, tetapi di sekolah, maka diperlukan adalah mengajar dengan sebaik-baiknya, berikan yang terbaik untuk anak didik. Jika perlu jangan sering bolos mengajar. Artinya, sebagai guru harus disiplin, komitmen dan cinta. Jika, setiap guru sudah cinta dengan profesinya, maka tidak ragu lagi apa yang dikerjakan.

Selamat bu Dayang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.