Dampak Abu Vulkanik Letusan Gunung Agung Terhadap Kesehatan Anda

GUNUNG Agung masih meletus mengeluarkan asap dan abu vulkanik setinggi 6.000 meter di atas permukaan laut (Mdpl). Warga yang tinggal sekitar 10 kilometer dari Gunung Agung mengungsi karena dampak abu cukup membahayakan.

Biasanya, abu vulkanik menjadi persoalan serius bila terjadi sebuah letusan gunung api karena dampaknya sangat luas. Abu vulkanik berpotensi membahayakan dunia penerbangan. Bagi lingkungan, abu vulkanik bisa menurunkan kualitas air dan jangka pendek merusak tanaman, hingga berpotensi menyebabkan berbagai jenis penyakit bagi makhluk hidup termasuk manusia.

Apa yang bisa terjadi bila seseorang terpapar abu vulkanik? Dikutip dari International Volcanic Health Hazard Network (IVHHN) bisa dari konjungtivitis mata hingga memicu masalah pernapasan kronis dan akut.

Gejala pernapasan akut yang sering dilaporkan oleh masyarakat setelah gunung meletus adalah iritasi selaput lendir dengan keluhan bersin, pilek, beringus, iritasi, dan sakit tenggorokan. Penyakit tersebut kadang disertai batuk kering, batuk dahak, mengi, sesak napas, dan iritasi pada jalur pernapasan. Gangguan tersebut akan lebih berat bila terkena pada orang atau anak yang sebelumnya mempunyai riwayat alergi saluran napas dan bronkitis kronis, eufisema, atau asma.

Selain itu, abu vulkanik yang terhirup dapat merangsang peradangan di paru-paru serta luka di saluran napas. Luka ini seperti codet di kulit yang akan menyebabkan luka permanen pada alveolus yang dalam jangka panjang berpotensi menyebabkan kanker.

Ketika abu vulkanik tersebut bersifat asam dan mengenai kulit tubuh bisa menyebabkan gatal-gatal, iritasi, dan infeksi. Iritasi pada kulit tersebut bisa juga diakibatkan oleh perubahan kualitas air yang sudah tercemar abu vulkanik yang bersifat asam.

Debu vulkanik yang halus dan berukuran sangat kecil, yaitu kurang dari 10 mikron, berpotensi mengganggu pernapasan. Bahkan, debu berukuran kurang dari 5 mikron dapat menembus saluran pernapasan bagian bawah atau organ paru-paru.

Dampak kesehatan yang terjadi akibat debu vulkanik bisa bersifat akut maupun kronis. Efek akut bisa terjadi setelah terpapar oleh debu vulkanik dalam waktu singkat, sedangkan efek kronik bisa timbul setelah terpapar material vulkanik dalam jangka waktu panjang, atau bertahun-tahun.

Kesehatan Pernapasan

dietsempurna.com

Menghirup debu vulkanik sangat berbahaya bagi kesehatan pernapasan. Material debu yang masuk ke melalui saluran pernapasan bisa menimbulkan iritasi saluran pernapasan hingga infeksi, yang dikenal dengan istilah ISPA (infeksi saluran pernapasan akut). Paparan debu vulkanik pada saluran pernapasan juga bisa menyebabkan efek akut pada penderita penyakit pernapasan seperti asma, bronkhitis dan enfisema (penyakit paru obstruktif kronik / PPOK).

Beberapa gejala yang dapat timbul pada pernapasan setelah menghirup debu vulkanik antara lain iritasi saluran pernapasan, sekresi dahak meningkat, iritasi dan radang pada tenggorokan, batuk kering, dada sakit dan kesulitan bernapas, serta gejala asma

Jika anda atau orang di dekat anda mengalami gejala tersebut, segera amankan ke tempat yang terbebas dari paparan debu vulkanik untuk mencegah efek yang lebih buruk pada pernapasan.

Kesehatan Mata

Tekstur debu atau abu vulkanik berbeda dengan debu biasa. Debu vulkanik memiliki sudut kristal yang meruncing atau tajam, sehingga dapat menggores dan menyebabkan iritasi. Selain berbahaya jika terhirup, debu tersebut juga dapat menyebabkan gangguan pada mata. Selain menyebabkan iritasi, debu vulkanik juga dapat merusak lapisan kornea pada mata.

Beberapa gejala yang bisa timbul pada mata antara lain iritasi mata (mata memerah), mata terasa gatal dan/atau perih, air mata keluar terus menerus, abrasi pada kornea mata karena goresan oleh debu vulkanik, sehingga mata menjadi perih.

Hal lain yang bisa terjadi pada mata yang terpapar abu vulkanik adalah gejala konjungtivitis akut atau peradangan pada konjungtiva. Gejalanya seperti mata merah, sensasi seperti terbakar, dan sensitif terhadap cahaya.

Gunakan kaca mata untuk melindungi mata anda ketika harus berada pada daerah yang terpapar debu vulkanik. Jika debu masuk ke mata, jangan mengucek atau menggosok mata karena justru dapat menyebabkan goresan pada lapisan kornea mata.

Dampak Terhadap Kulit

Material vulkanik, yang mengandung zat-zat berbahaya seperti gas CO, H2S, SO2, juga bisa menyebabkan gangguan pada kulit. Walaupun kasusnya cukup jarang dan lebih sering terjadi pada orang dengan tipe kulit sensitif.

Karena abu vulkanik bisa memiliki lapisan asam, beberapa orang mungkin akan mengalami iritasi kulit. Iritasi kulit cukup berbahaya bagi para pengungsi karena akan meningkatkatkan risiko infeksi terutama bila kulit jadi luka akibat digaruk.

Efek buruk yang terjadi pun umumnya bersifat ringan, berupa iritasi dan kemerahan pada kulit yang terpapar, namun cukup membuat penderitanya tidak nyaman.

Pencegahan

Untuk mencegah terjadinya dampak buruk bagi kesehatan yang disebabkan oleh material vulkanik, khususnya debu dan abu vulkanik, gunakanlah masker atau kain untuk menutupi mulut dan hidung. Ini dilakukan sebagai langkah meminimalisir paparan debu dan abu vulkanik pada saluran pernapasan.

Terlebih bagi mereka yang memiliki riwayat gangguan pernapasan seperti asma atau sakit paru, penggunaan masker sangat diutamakan, dan segeralah mengamankan diri ke tempat yang cukup terhindar dari paparan material vulkanik. Anak-anak dan lansia juga harus diutamakan untuk menggunakan masker pengaman.

Selain itu, gunakan kaca mata untuk melindungi mata agar tidak terjadi iritasi dan gangguan penglihatan. Menggunakan pakaian yang tertutup (celana panjang dan baju yang menutup seluruh lengan) juga disarankan untuk mencegah gangguan kulit yang bisa disebabkan oleh debu dan abu vulkanik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here