Anak Obesitas Harus Diperiksa Karena Terkait Diabetes Melitus

Tandapagar.com – Penyakit diabetes melitus (DM) atau akrab disebut kencing manis yang pada khususnya Diabetes Melitus tipe 2 yang bukan faktor keturunan, kini tak hanya menyerang orang dewasa. Tetapi juga anak-anak dan remaja. Ironisnya lagi, diabetes pada anak sulit dideteksi, sehingga tindakan preventif akan sedikit lebih sulit untuk dilakukan.

khususnya Diabetes Melitus tipe 2 yang bukan faktor keturunan, kini tak hanya menyerang orang dewasa. Tetapi juga anak-anak dan remaja. Ironisnya lagi, diabetes pada anak sulit dideteksi, sehingga tindakan preventif akan sedikit lebih sulit untuk dilakukan.

Diabetes Melitus tipe 2 tidak memiliki tanda-tanda spesifik dari seorang bayi yang memiliki potensi terkena diabetes ketika menginjak usia dewasa.

Seorang anak baru akan terdeteksi menderita diabetes pada usia 7 tahun ke atas. Hal itu ditandai dengan beberapa gejala yang mirip dengan gejala diare seperti muntah, sering buang air besar, kesadaran menurun (koma), dehidrasi berat, kejang-kejang dan sebagainya. Namun yang membedakan secara spesifik, ditemukan nafas si anak berbau asam (aseton).

Nah, menurut ahli endokrin anak Dr. dr. Aman Pulungan, Sp.A (K) memaparkan bahwa ada hubungan antara obesitas dengan resistensi insulin. Ia menelitinya dan menuliskannya dalam karya ilmiah Paediatrica Indonesia tahun 2013.

 “Dari 92 remaja dengan obesitas di Jakarta Pusat, 35 atau 38 persen menunjukkan tanda resistensi insulin,” ujarnya dalam acara “Kenali Gejala Dini Kanker Pada Anak,” di Jakarta, baru-baru ini.

Menurut Ketua Pengurus Pusat IDAI, sebaiknya bila orangtua memiliki anak dengan obesitas segera melakukan pemeriksaan diri.”Mereka harus diperiksa darahnya karena siapa saja bisa terkena DM (diabetesmelitus),” tegas Dr. Aman.

Sementara, Kepala Divisi Endokronologi Departemen Kesehatan Anak RS Cipto Mangunkusumo/ FKUI ini menyatakan bahwa ketika anak menderita DM itu memerlukan biaya yang besar.

“Tidak hanya menjadi beban keluarga, tapi juga negara karena anak dengan DM itu harus memakai insulin seumur hidup. Biaya pelayanan kesehatan anak dengan DM itu bisa 2,4 kali lebih tinggi dibandingkan pasien nondiabetes,” imbuh Dr. Aman.

Direktur Pencehagan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan dr. Cut Putri Ariane, M.H.Kes mengutip dari data Diabetes: A Global Emergency, Indonesia menduduki urutan no. 7 steleah Cina, India, Amerika Serikat, Brasil, Rusia, dan Meksiko dengan beban estimasi DM sebesar 10 juta.

Apakah kita sudah menjaga asupan? Bagaimana dengan gula, garam, dan lemak. Bila ada obesitas, segera cek gula darah,” ujar dr. Cut.

Selain itu, Dr. Aman menambahkan bahwa ada prinsip 5210 untuk mencegah DM pada anak.

 “5 itu merujuk pada asupan buah dan sayuran 5 kali. Kemudian, 2 adalah dua jam anak duduk di luar kegiatan sekolah dan screen time. Selanjutnya, 1 adalah satu jam adalah waktu ideal melakukan olahraga. Terakhir, 0 adalah tidak ada gula maupun gula tambahan,” sebutnya.

Doktor Aman juga mengingatkan agar orangtua tidak memberikan makanan kemasan yang belum jelas kadar gulannya.”Hindari memberikan reward ke anak berupa makanan. Sebab, kita tidak tahu kadar gulanya,”pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.